Jumat, 25 November 2011


JENIS PENELITIAN BERIKUT DESAIN PENELITIAN  

METODE PENELITIAN KUANTITATIF DAN STATISTIK

Dosen pembimbing:
Prof. Dr. Bambang Y dan prof. Dr. Sunarto



Oleh:

Agus Paramuriyanto                117835008
Ahmad Khoiron Hamzah         117835075
Bambang Edi Pornomo            117835022
Idham                                      117835040
 Nanda Sukmana                      117835023

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI
SURABAYA
2011


JENIS PENELITIAN BERIKUT DESAIN PENELITIAN

A.    Pengantar
Dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya sebuah penelitian terhadap pendidikan, baik itu mengupas atau menyelidiki tentang seluk-beluk pendidkan atau pun bahan ajar pendidikan dan hal-hal non pendidikan. Sehubungan dengan mata kuliah metode penelitian kuantitatif dan statistis membahas tentang bagaimana tata cara melakukan penelitian dan sub-sub atau tahapan-tahapan dalam melakukan sebuah penelitian tersebut. Dalam penelitian kata masalah atau rumusan masalah dan bagaimana menentukan dan memilih masalah untuk di teliti. Setelah itu kita membicarakan apa yang melatarbelakangi munculnya masalah itu. Selain latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan sub-sub lainnya yang harus dipenuhi. Ada suatu unsur atau sub yang harus di cari dan ditentukan yakni populasi dan sampel. Karena penentuan populasi dan sampel mempermudah penelitian bagi peneliti.
Semua itu termasuk dalam metodologi penelitian, namun ada hal yang penting dalam melakukan suatu penelitian yakni, rancangan penelitian atau desain penelitian. Gambaran umum desain penelitian dan berikut jenis-jenis penelitiannya.

B.     Jenis Penelitian Kuantitatif
Berbicara mengenai jenis penelitian, gambara di pikiran kira pastilah akan bercabang kemana-mana. Namun itu akan segera jelas dan tertuju pada satu pusat. Pertama kita pilah jenis penelitiannya, yakni ada penelitian kuantitatif dan ada penelitian kualitatif. Kemudian kita berfokus pada penelitian kuantitatif, dan jenis penelitian kuantitatif. Maka:
Menurut Suharsimi (2002:12) jenis-jenis penelitian kuantitatif secara umum dibedakan menjadi dua, yakni penelitian eksperimen dan non eksperimen. karena dalam pembahasan kali ini kami tidak membahas penelitian tindakan. Maka kami tidak akan membahas PTK (penelitian tindakan kelas). Apabila data sudah tersedia maka disebut penelitian non-eksperimen, namun jika data masih akan di cari  maka penelitian tersebut dinamakan penelitian eksperimen.
Suharsimi (2002:12) Penelitian non-eksperimen yang banyak dilakukan berbentuk antara lain:
1.      Penelitian Deskriftif
Menurut prof. Sukmadinata (2005:72) Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Dan banyak ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupu hasil rekayasa manusia. Dan objek kajian penelitian ini antara lain:
a.       Bentuk fenomena
b.      Aktifitas fenomena
c.       Karakteristik fenomena
d.      Perubahan fenomena
e.       Hubungan fenomena
f.       Kesamaan fenomena dan
g.      Perbedaan fenomena

Untuk keterangan mengenai penelitian deskriptif silahkan klik disini

Jenis  Penelitian Deskriptif menurut Sukmadinata (2005:76)
Ø  Studi perkembangan (developmental study)
Ø  studi  kasus contoh dan keterangannya klik disini
Ø  studi kemasyarakatan
Ø  studi perbandingan
Ø  studi hubungan
Ø  studi kecendrungan
Ø  studi tindak lanjut
Ø  analisis kegiatan
Ø  analisis data atau dokumentasi

2.      Penelitian Eksploratif
Penelitian ekaploratif adalh salah satu penelitian sosial uyang tujuannya membri sedikit definisi atau penjelasan mengenai konsep atau pola yang dignakan dalam penelitian. Menurut mantra (2004:37-39) penelitia kan mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi lebih jauh. Dan sifat peneltian ini adalah kreatif, fleksibel, terbuka, dan semua sumber dianggap penting sebagai sumber informasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjadikan topik baru untuk lebih di kenal oaleh masyarakat luas, memberikan gambaran dasar mengenai topik bahsan, menggenarilisasi gagasan dan mengembangkan teori yang bersifat tentatif, membuka kemungkinan yang diadakannya penelitian lanjutan terhadap tipok yang dibahas, serta menunjukkan teknik dan arah yang digunakan dalam penelitian berikutnya.   
Untuk contoh dan keterangannya silahkan klik disini dan disini

3.      Penelitian Survei
Menurut Sukamadinata (2005:82) Penelitian survei biasanya digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar (contoh, seperti niat pak Joko, mahasiswa S2 PBSI unesa, beliau ingin meneliti tingkat kemampuan berbahasa di seluruh indonesia). Nah dengan contoh tersebut bisa menggunakan penelitian survei terlebih dahulu. Setelah itu terserah anda pak Joko.
Dan kenyataannya di Indonesia, penelitian ini biasa digunakan untuk mengetahui perkembangan jumlah penduduk se Indonesia, dari tahun ke tahun.

4.      Penelitian Evaluasi
Menurut Sukmadinata (2005:120) penelitian evaluatif merupakan suatu desain dan prosedur evaluasi dalm mengumpulkan data dan menganalisis data secara sistematik untuk menentukjan nilai atau manfaat dari suatu pendidikan. Praktek pendidikan bisa berupa program, kurikulum, pembelajaran, kebijakan, regulasi administratif, dll.
Untuk contoh klik disini dan untuk keterangannya klik disini

Menurut sukmadinata (2002:203-209) penelitian eksperimen dibagi menjadi tiga yakni:
1.      Eksperimen murni
penelitian eksperimen murni kelompok subjek penelitian ditentukan secara acak, dan merupakan pengujian terhadap variabel bebas dan variabel terikat yang dilakukan terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Serta dalam penentuan sampel dilakukan secara acak. Karena semua kelompok dianggap sama akan kemampuannya.
2.      Eksperimen kuasi (semu)
Pada penelitian eksperimen murni kelompok subjek penelitian ditentukan secara acak, sehingga akan diperoleh kesetaraan kelompok yang berada dalam batas-batas fluktuasi acak. Namun, dalam dunia pendidikan khususnya dalam pebelajaran, pelaksanaan penelitian tidak selalu memungkinkan untuk melakukan seleksi subjek secara acak, karena subjek secara alami telah terbentuk dalam satu kelompok utuh (naturally formed intact group), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini kaidah-kaidah dalam penelitian eksperimen murni tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya, sehingga penelitian harus dilakukan dengan menggunakan intact group. Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian kuasi eksperimen (eksperimen semu). Jadi penelitian kuasi eksperimen menggunakan seluruh subjek dalam kelompok belajar (intact group) untuk diberi perlakuan (treatment)
3.      Eksperimen lemah (pra eksperimen)
Namanya saja eksperimen lemah, dan kenapa dikatakan eksperimen lemah itu karena tidak adanya penyamaan karakter (random) dan tidak ada pengontrolan variabel. Dan eksperimen ini sebaiknya tidak digunakan untuk penelitian tesis, desertasi atau penelitian-penelitian yang digunakan untuk penentuan kebijakan, pengembangan ilmu, dan sejeninnya.
4.      Eksperimen subjek-tunggal
Merupakan sebuah eksperimen yang memiliki subjek penelitian yang bersifat tunggal, namun objeknya bisa satu orang atau lebih. Dalam artian penyajian dan analisis data berdasarkan subjek secara individual.


C.    Desain Penelitian
Menurut Suharsimi (2002:11) desain penelitian kuantitatif secara umum adalah adanya kejelasan dalam langkah-langkah penelitiannya dan hasil yang diharapkan pun sudah jelas. Jika desain penelitian disamakan dengan langkah-langkah penelitian maka tidak ada bedanya dengan rancangan penelitian. Maka dari itu, desain atau rancangan penelitian lebih menekankan atau lebih mengarah pada penyusunan langkah-langkah pengumpulan data, penganalisisan data, serta penyimpulannya. Nah sehubungan dengan hasil yang diharapkan pun sedah jelas dapat diartikan ini adalah penentuan hipotesis harus sangat tepat.
Dalam penelitian non eksperimen, misalnya penelitian survei peneliti dapat menyusun desain penelitian atau tahapan-tahapan penelitian dalam mengumpulkan data, menganalisis, dan menyimpulkan. Namun sebalum itu ada beberapa teknik mengumpulkan data dalam penelitian survei, seperti pendapat Sukmadinata (2005:84) yaitu wawancara langsung dan tak langsung, kemudian pengedaran angket secara langsung dan tak langsung, obsevasi, dan studi dokumenter.

D.    Desain Penelitian Eksperimen
Secara definisi, desain penelitian mempunyai dua macam pengertian, yaitu secara luas dan sempit. Secara luas, desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksaan penelitian. Dalam hal ini komponen desain dapat mencakup semua struktur penelitian yang diawali sejak menemukan ide, menentukan tujuan, kemudian merencanakan proses penelitian, yang di dalamnya mencakup perencanaan permasalahan, merumuskan, menentukan tujuan penelitian, mencari sumber informasi dan melakukan kajian dari berbagai pustaka, menentukan metode yang digunakan, analisis data dan mengetes hipotesis untuk mendapatkan hasil penelitian, dan sebagainya. Arti desain penelitian secara luas ini didukung oleh pendapat dari beberapa ahli (babbie, 1983), (Gay, 1983) dan (Nazir, 1988). Lebih jauh (Babbie, 1983), tentang desain penelitian yang mengatakan bahwa research design addresses the planning of scientific inquires.
Seorang peneliti memang perlu mempertimbangkan sejakl munculnya rasa ketertarikan mereka terhadap masalah yang muncul dalam suatu objek atau subjek di sekitarny, kemudian diteruskan pemikiran lebih jauh guna menangkap dan merangkaikan ide dan  teori yang mendasari dari interes peneliti terhadap sesuatu yang  ingin diteliti. Atau dengan kata lain, pemikiran dari yang masih sifatnya abstrak ini dilanjutkan sampai pada langkah yang lebih nyata atau operasional, di anntaranya yaitu menghubungkan pada konteks dan permasalahan. Variabel yang terikat dalam permasalahan, pemilihan metode, tehnik sampling, administrasi data, dan sampai akhirnya pada pembuatan laporan penelitian.
Desain penelitian secara sempit dapat diartikan sebagai penggambaran secara jelas tentang hubungan antarvariabel, pengumpulan data, dan analisis data, sehingga dengan adanya desain yang baik peneliti maupun orang lain yang berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antara variabel yang ada dalam konteks penelitian dan apa yang hendak dilakukan oleh seorang peneliti dalam melaksanakan penelitian. Desain penelitian yang dibuat secara cermat akan memberikan gambaran yang lebih jelas pada kaitannya dengan penyusunan hipotesis dengan tindakan yang akan diambil dalam proses penelitian selanjutnya.
Contoh aplikasi nyata perlunya desain penelitian (Campbel dan Stanley, 1966), mengenai model desain penelitian yang jumlahnya  12 model dan terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu praeksperimen, eksperimen, dan eksperimen semu (quasi experiment). Desain pertama adalah model praeksperimen, bentuk model ini masih  berpendapat bahwa desain tidak perlu karena dengan pemahaman sepintas, parea peneliti dapat mengetahui tindakan apa yang hendak dilakukan dan implikasi apa yang perlu untuk mendapatkan data yang diperlukan di lapangan.
PRAEKSPERIMEN
Desain 1. Praeksperimen
Pada desain 1 ini tidak ada grup kontrol.
Pretes
Variabel Terikat
Postes
Y1
X
Y2
Desain 2. Perbandingan Grup statis
Keterangan:
Grup
Variabel Terikat
Postes
Eksperimen
Kontrol
X
-
Y2
Y2
X = ada treatment
-  = tidak menerima treatment
Pada desain praeksperimen ini kebberadaan grup tidak dipilih secara random.
EKSPERIMEN
Desain 3. Postes Hanya Grup Kontrol dengan random Subjek
(Randomized Subjects Posttest Only Control Group Design)

Grup
Variabel Terikat
Postes
(R)
(R)
Eksperimen
Kontrol
X
-
Y2
Y2
Desain 4. Memasangkan Subjek Hanya Postes Secara Random
(Randomized Matched Subjects Posttest Only)

Grup
Variabel Terikat
Postes
(Mr)
Eksperimen
Kontrol
X
-
Y2
Y2
Desain 5. Subjek Random Desain Pretes-Postes Grup
(Randomized Subjects, Pretes-Posttest Control Group Design)

Grup
Pretes
Variabel Terikat
Postes
(R)
(R)
Eksperimen
Kontrol
Y1
Y1
X
-
Y2
Y2
Desain 6. Desain Tiga Grup Salamon (Salamon Three Group Design)

Grup
Pretes
Variabel Terikat
Postes
(R)
(R)
(R)
Eksperimen
Kontrol 1
Kontrol 2
Y1
Y1
_
X
-
X
Y2
Y2
Y2
Desain 7. Desain Empat Group Salamon (Salamon Four Group Design)

Grup
Pretes
Variabel Terikat
Postes
(R)
(R)
(R)
(R)
Eksperimen
Kontrol 1
Kontrol 2
Kontrol 3
Y1
Y1
_
-
X
-
X
-
Y2
Y2
Y2
Y2
Desain 8. Faktorial Sederhana (Simple Factorial Design)
Variabel Atribut
Variabel Eksperimen (X1)
Treatment A
Treatment B
Level 1
Level 2
Cell 1
Cell 2
Cell 3
Cell 4



EKSPERIMEN SEMU
Desain 9. Pretes-Postes Grup Kontrol Tidak Secara Random
(Nonrandomized Control Group Pretest-Posttest design)
Grup
Pretes
Variabel Terikat
Postes
Eksperimen
Kontrol
Y1
Y1
X
-
Y2
Y2
Desain 10. Pengaruh Imbangan (Counter Balanced Design)
Pengulangan
Treatment Eksperiment
X
2
X3
4
1
2
3
4
Grup A
Grup C
Grup B
Grup D
Rerata kolom 1
B
A
D
C
Rerata
kolom 2
C
D
A
B
Rerata
kolom 3
D
B
C
A
Rerata
kolom 4
Desain 11. Satu Grup Time seri (One Group Time Seri Design)
Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8
Desain 12. Grup Kontrol Time Series (Control Group Time Series Design)
Grup

Eksperimen
Kontrol
Y1 Y2 Y3 Y4 X        Y5 Y6 Y7 Y8
Y1 Y2 Y3 Y4 -        Y5 Y6 Y7 Y8
Untuk memecahkan persoalan eksperimen yang lebih rumit, seorang peneliti umumnya memerlukan adanya pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan desain factorial. Desain factorial pada prinsipnya termasuk bagian  dari desain penelitian, yang secara pasti diuraikan sebagai berikut.
Factorial design  is one in which two or more variabel s are manipulated simultaneously in order to study the independent effect of each variabel  on the dependent variabel s as well as the effects due to interactions among the several variabel s (Ary dkk., 1985).
Desain faktorial merupakan suatu tindakan terhadap satu variabel atau lebih yang dimanipulasi secara simultan agar dapat mempelajari pengaruh setiap variabel terhadap variabel terikat atau pengaruh yang diakibatkan adanya interaksi antara beberapa variabel. Jika diperhatikan pada desain 1 dan desain 2, menunjukkan bahwa karena masih menggunakan konsep variabel tunggal, seorang peneliti pada umumnya masih merasa mudah dan mengerti apa yang hendak dilakukan dan tindakan apa yang perlu diantisipasi untuk mengambil data yang diperlukan di lapangan. Konsep variabel tunggal ini banyak terjadi di penelitian laboratorium, ilmu pengetahuan alam, dan disebagian penelitian tinngkah laku (pendidikan, sosial dan ekonomi). Tetapi bila lebih lanjut kita melihat pada desain penelitian eksperimen atau eksperimen semu, maka kesulitan akan dirasakan, terutama dalam menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan dalam proses selanjutnya.
Dalam penelitian tingkah laku, konsep variabel tunggal pada umumnya kurang tepat jika diterapkan dalam penelitian sebenarnya. Hal ini terjadi, karena kebanyakan pengaruh variabel terjadi saling terkait dengan variabel lainnya. Untuk mengatasi pengaruh variabel yang saling terkait dan memecahkan permasalahan dalam penelitian eksperimen, desain faktorial dapat digunakan secara tepat. Dengan desain faktorial, seorang peneliti dimungkinkan untuk dapat mencermati disamping pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel terkait, juga interaksi yang dapat terjadi dari beberapa variabel terikat maupun variabel bebas dalam suatu proses penelitian.
Desain faktorial dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama, satu dari variabel bebas dimanipulasi secara eksperimental dengan variabel terikat. Tipe ini pada umumnya dilakukan karena peneliti tertarik pada pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah, baru kemudian memperhitungkan variabel lainnya yang mungkin berpengaruh pada variabel tersebut. Tipe kedua adalah dalam suatu penelitian, semua variabel bebas dimanipulasi secara eksperimental, karena si peneliti tertarik terhadap pengaruh beberapa variabel bebas dan mengharapkan dapat menilai pengaruh variabel tersebut baik secar terpisah maupun secara bersama.

E.     YANG MERUSAKKAN HASIL EKSPERIMEN
Hasil eksperimen dengan subjek manusia atau tingkah laku mempunyai kemungkinan besar bervariasi, apabila peneliti tidak bisa memisahkan antara variabel yang diperlukan dari variabel luar di sekitar proses eksperimen. Padahal secara ideal, suatu eksperimen dikatakan valid apabila:
1.      Hasil yang dicapai hanya diakibatkan oleh karena variabel bebas yang dimanipulasi secara sistematis.
2.      Hasil akhir eksperimen harus dapat digeneralisasi pada kondisi eksperimen yang berbeda.
Untuk mencapai hal yang ideal di atas, ada dua syarat agar hasil suatu eksperimen dapat menapai hasil yag baik dan tidak bervariasi. Kedua syarat yang dimaksud adalah perlunya validitas internal dan validitas eksternal yang terjaga selama proses penelitian eksperimen.
Suatu penelitian dikatakan mempunyai validitas internal tinggi, apabila  kondisi berbeda pada variabel terikat dari subjek yang diteliti merupakan hasil langsung dari adanya manipulasi variabel bebas. Misalnya, penelitian pendidikan  tentang pengaruh metode mengajar alternatif dan metode mengajar yang biasa diberikan guru terhadap hasil belajar siswa. Jika validitas internal tinggi, maka perbedaan hasil belajar di antara grup eksperimen dan grup kontrol, hanya disebabkan adanya pengaruh dari kedua variabel metode mengajar. Hal ini dapat dicapai apabila validitas internal tetap dijaga sehingga perubahan hasil belajar pada siswa hanya disebabkan oleh adanya perubahan pada variabel bebas.
Validitas internal penelitian eksperimen dapat terjadi karena adanya delapan faktor penting sebagai sumber variasi, kedelapan faktor tersebut, yaitu:
1.      Faktor sejarah atau history dari subjek yang diteliti.
2.      Proses kematangan.
3.      Prosedur pretesting.
4.      Instrumen pengukur yang digunakan.
5.      Adanya kecenderungan terjadinya statistik regresi pada individu.
6.      Perbedaan pemilihan subjek.
7.      Perbedaan lainnya disebabkan adanya mortalitas dalam proses eksperimen.
8.      Terjadinya interaksi di antara faktor-faktor di atas, termasuk kematangan, sejarah, pemilihan, dan sebagainya.
Kedelapan faktor ini perlu dikontrol agar variabel yanng direncanakan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel terikat.
Variabel eksternal tinggi merupakan kondisi dimana hasil penelitian yang dilakukan dapat digeneralisasi dan digunakan pada kelompok lain di luar setting eksperimen, ketika keadaan serupa dengan kondisi penelitian eksperimen. Jika hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi pada situasi lain, maka dapat diartikan bahwa orang lain tidak dapat mengambil keuntungan dari hasil penelitian yang ada. Akibatnya mereka harus terus-menerus melakukan penelitian sendiri untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Beberapa peneliti menggunakan istilah ecological vallidity untuk batasan validitas eksternal.
Validitas eksternal pada umumnya dibedakan menjadi empat macam faktor, yaitu:
1)      Adanya interaksi pengaruh bias pemilihan dan X.
2)      Pengaruh interaksi pretesting.
3)      Pengaruh reaktif proses eksperimen.
4)      Adanya interferensi antarperlakuan selama dalam proses penelitian eksperimen.
Validitas eksperimen yang baik mestinya mengandung kedua validitas tersebut, secara proporsional, walaupun itu tidak dapat dicapai secara sempurna.
Jika dari bermacam-macam desain penelitian tersebut dipadukan dalam suatu tabel, maka akan tampak masing-masing kelemahan maupun kelebihannya terhadap validitas internal maupun validitas eksternalnya. Memahami masing-masing desain penelitian terhadap sumber validitas tersebut penting, terutama ketika peneliti akan menentukan bentuk desain penelitian eksperimen yang hendak digunakan guna memecahkan permasalahan yang diinginkan.
Faktor-faktor yang mungkin merusakkan validitas desain eksperimen, secara ringkas dapat dilihat seperti tabel berikut:
Tabel 13.1 Faktor Yang Merusakkan Validitas Eksperimen
Sumber Validitas
Desain Penelitian
Pra-eksperimen
Eksperimen
Eksperimen Semu
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Validitas Internal











?     Sejarah yang melatari
-
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
?     Proses kematangan
-
?
+
+
+
+
+
+
+
+
+
?     Prosedur pretesting
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
?     Pengukur Instrumen
-
+
+
+
+
+
+
+
+
?
+
?     Statistik Regresi
?
+
+
+
+
+
+
?
+
+
+
?     Perbedaan seleksi
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
?     Mortalitas
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
?     Interaksi antara pemilihan dan pematangan
-
-
+
+
+
+
+
-
?
+
+
Validitas Eksternal











?     Interaksi pemilihan dan variabel eksperimen (X)
-
-
?
?
?
?
?
?
?
?
-
?     Interaksi pretesting dengan variabel
-

+
+
-
+
+
-
?
-
-
?     Relasi prosedur eksperimen
?

?
?
?
?
?
?
?
?
?
?     Inteferensi multi teratment










-
Keterangan :
+    = menunjukkan adanya kontrol terhadap faktor
-          = menunjukkan tidak adanya kontrol terhadap faktor
?    = menunjukkan masih dipertanyakan kontrol terhadap faktor
= (kosong) menunjukkan bahwa faktor yang dimaksud tidak relevan.
Nomor 1-12 menunjukkan desain penelitian eksperimen yang  terbagi atas tiga kelompok, yaitu praeksperimen, eksperimen dan eksperimen semu.


Kesimpulan
Penelitian eksperimen merupakan salah satu metode yang memerlukan persyaratan paling ketat, guna mencapai tujuan penelitian khususnya untuk menentukan hubungan sebab akibat atau causal-effect relationship.
Dalam penelitian eksperimen, variabel-variabel yang diidentifikasi ke dalam dua kelompok variabel bebas dan  variabel terikat sudah dibangun secara  tegas sejak awal penelitian.
Di llihat dari aspek prosesnya tempat kejadian, penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian di laboratorium dan penelitian lapangan atau di luar laboratorium.
Penelitian eksperimen mempunyai tiga  ciri penting yang selalu menyertainya, yaitu adanya manipulasi secara terencana, kontrol terhadap variabel, dan observasi terhadap proses eksperimen
Kegiatan mengontrol variabel mempunyai peranan penting. Karena dengan adanya kontrol variabel tersebut, peneliti dapat melakukan pengukuran secara cermat terhadap setiap perubahan penampilan variabel terikat.
Desain penelitian merupakan penggambaran secara jelas hubungan antar variabel yang dapat dimanfaatkan dalam menyusun hipotesis penelitian dan tindakan yang perlu diambil dalam proses eksperimen selanjutnya.
Yang perlu di ingat adalah dalam menentukan desain penelitian peneliti bisa mendesainnya sendiri sesuai kebutuhan penelitian.



Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. 1993. Strategi Penelitian. Bandung: Angkasa.
Arikunto, Suharsimi, 2002. PROSEDUR PENELITIAN Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. PT Rineka Cipta.
Hermawan, Asep. Tanpa tahun. Penelitian Bisnis-Paradigma Kuantitatif. Jakarta: PT.Grasindo. 
Mantra, Ida Bagus. 2004. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial. Pustaka Pelajar.
Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005. Metodologi Penelitian. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Suroso. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Edisi Revisi. Yogyakarta: Pararaton.
Suryabrata, Sumadi. 1987. Metodologi Penelitian. Jakarta: CV Rajawali.
Sutejo, 2010. Penelitian Tindakan Kelas. -

Senin, 31 Oktober 2011

AKHIRNYA JELAS JUGA

Agus Paramuriyanto


Hari ini, bisa dibilang aku berada di tempat yang salah
Tempat dimana ada kerusuhan yang sudah rusuh
Oleh kumpulan orang yang ahli membuat kerusuhan
Namanya kerusuhan
Ya... sudah pasti rusuh,
Bagaimana tidak!!
Yang ada, orang yang paling ahli membuat rusuh
ya pasti rusuhlah
Aku heran kenapa aku bisa ada ditempat seperti ini, “rusuh”
Waktu itu .....
Remang-remang gelap malam, waktu dimana matahari
Mulai menutup matanya, menutup telinga, menutup mulut
Lampu kota yang mulai menyala
Namun hanya menyala sebentar, lalu mati
Ha.......hhhhh
Capek Aku!!
Kenapa aku bisa ada disini?
Tempat yang sangat tidak layak dipandang mata
Semua berhamburan
Mayat-mayat berserakan
Darah semata kaki
Apa ini yang di sebut revolusi?
Ku pikir itu hanya bualan orang kuno
Kenapa ........??
aku harus ada di tempat ini
Tempat yang seharusnya tak Ku singgahi
Tapi aku berpikir sejenak
Kalau tidak salah sepertinya aku kenal tempat ini
Coba kulihat sekeliling
Rumah, kamar, kost, .....
Dimana ini.....
Kepalaku pusing memikirkannya
Lalu...
Bos !!
Bos !!
Siapa? Coba ku bertoleh
Eh ternyata kamu
Kamu ......
Iya Bos ini aku
Aku temanmu
Sumpah !!
Aku yakin dia temanku tapi siapa namanya
Aku tak berani bertanya padanya,
Siapa namanya
Aku bena-benar tak ingat siapa namanya
Bos, cepatlah kesini ada yang harus kamu lihat
Apa? Apa? Apa?
Ayolah ikut
Ok ok !!
Tapi jangan kau tarik aku seperti ini memangnya aku ini sapi
Seenaknya saja
Namun temanku itu tak menghiraukan ucapanku
Mau dibawa kemana aku?
.........................
Apa itu ?!!
Sebuah lorong yang cukup lebar
Di apit dua gedung besar
Yang sudah remuk tidak karuan bentuknya
Apa itu??
Ku coba mendekat
Semakin jelas pula apa yang terjadi di situ
Deeg !!......
Deeg !!.........
iii .....
iiiiiii......tu.....
Sungguh tak ku sangka temanku membawa aku ke tempat ini
Sebuah perlakuan menjijikkan
Apa ini benar-benar terjadi?
Heranku berlipat-lipat dan sambil ku mengumpat-ngumpat Coba saja kamu ada di sebuah kerusuhan yang sudah rusuh oleh orang pembuat rusuh diwaktu matahari terbenam kamu melihat sebuah adegan pemerkosaan
Hah ...
Pemerkosaan!!
Pandanganku kurang begitu jelas tentang itu
Tapi yang pasti
Itu yang terjadi
Kedip lampu yang tinggal menunggu kematiannya
Sekilas menerangi kelakuan bejat itu
Sekilas dan sekilas lagi
Bu..bu.. bu....bukankah ii...itu......
Itu..
Cewek yang ku sayangi setengah mati
Lalu siapa cowok itu
Aaaaaaaaaaa............................
Aaaaaaaaaaaaaaaaa......................
Cewek itu mengerang layaknya seorang putri yang kehilangan boneka kesayangannya
Namun aku hanya diam dan diam..
Siapa dia??
Siapa cowok itu
Apa !!
Ternyata cowok itu adalah cowok yang aku benci setengah mati juga
Ingin ku bunuh dia
Ku bantai dia
Ku lumat dia
Tapi kenapa kaki dan badanku tak bisa ku gerakkan
Kenapa? Kenapa?
Kenapa?..........................
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......................
Gadis itu mengerang lagi
Kulihat dia sudah lusuh
Matanya .............
Mata lelah seakan menyuruhku untuk merangkulnya
Kenapa? Kenapa Dengan aku ini?
Tiba-tiba
Piiiaaaakkk!!!
Kulihat cowok itu terpental, ambruk, tergeletak dengan bersimba darah dibajunya
Menyinggkir darinya
Menyingkir kataku
Ternyata teman yang tak ku ingat namanya itu
Menghantam cowok itu
Aku bisa bergerak!!
Tanpa tunggu lama-lama ku lesatkan sebuah bogem terkuat yang pernah dimiliki seorang laki-laki kearah cowok itu hingga ku tak bisa kenali dia kuhajar lagi dan lagi. Lalu teman ku yang tak ku ingat namanya itu meleraiku dan kubiar kan cowok itu pergi
Ku lihat cewek itu
Lusuh penuh keringat
Keringat derita yang takkan pernah hilang hingga ia mati
Gaun lusuh robek disana-sini
Ku lihat
Ku lihat matanya yang berlinang air
Air mata.....
Ku lihat matanya yang seakan berkata
Ma...ma..maafkan a..aakk...aaakkuu.....
Tak ku sangka
Aku tak sanggup menahan air mataku yang sudah ku coba menahannya sekuat-kuatnya orang terkuat
Se tegar-tegarnya si tegar
Segagah-gagahnya orang tergagah
Tak mampu menahan jatuhnya air mataku
Ingin ku rangkul
Ku dekap cewek itu
Tapi ribuan perusuh yang sukanya hanya merusuh itu berlarian di antara kami
Aku pun semakin jauh darinya
Dari ribuan, jutaan perusuh itu ku lihat ia sudah ada yang merangkul
Coba ku menciutkan alitku untuk memastikannya
Siapa yang membawanya
Ternyata teman sejenisnya
..............................
Semua hilang
Semua lenyap
Hanya tinggal aku dan teman yang tak ku ingat namanya itu
Ia melihatku
Dan berkata
Bos !
Inikah bosku!
Bos ku yang selama ini aku kenal
Sebagai orang yang baik, tenang, gagah,
Dan pantang untuk meneteskan air mata
Luluh, gagu, dan menangis sedu hanya karena gadis itu
Sudahlah bos yang penting dia sudah selamat
Apakah kamu akan selalu bersamaku, teman?
Aku akan selalu bersamamu, menenangkanmu, dan akan ku rahasiakan hal ini
Cukup hanya kita yang tau
Tak terasa alam sudah bangun
Fajar sudah datang
Aku berjalan ke jalan besar di tengah kota
Coba ku lihat sekeliling tampak sebuah kota mahapolitan kota mahapolitan yang hanya dalam waktu sekejap berubah menjadi kota mati kota yang mati. Semua luber, hancur, semua berantakan gedung-gedung pencakar langit rata dengan tanah mayat anak adam berserakan memehuni ruas jalan. Bau mayat busuk, sisa-sisa
Kendaran termewah yang pernah ada, terguling tinggal rangka
Berserakan !!
Darah yang semata kaki
Langit semakin terang
Ku lihat teman temanku itu
Dan aku terhenyak
Akhirnya aku ingat namanya
Tanpa lama aku panggil dia
Fajar!!
Kau Fajar kan?..
Yupz!! Kamu benar bos
Baru sadar lu
Apa baru bangun
Hehe,, cwry
Lihatlah Bos
Akhirnya kerusuhan ini berakhir
Lihat itu
Bukankah itu bus kampus yang lewat
Wau penyok” brow
Hahahahaha......
Kita tertawa terbahak-bahak melihat kehancuran kota mahapolitan
Hahahahahahaha.......
Namun dalam hati ini masih ada satu hal yang mengganjal
Ku lihat sekitarku
Bus-bus kampus yang penyok” mobil-mobil mewah yang amburadul tak berbentuk memuat anggota kerusuhan untuk miggrasi meneruskan bakat
hahahahahaha.......
Sekilas kulihat
Segerombolan cewek berkerudung menaiki empat mobil angkutan umum yang masih bisa melaju namun kesingnya sudah ruwet
Hahahahahaha....
Lalu...
Mirna.......................
Mirna................................
Teriak seorang perempuan dari dalam mobil yang paling belakang
Mirna ?? ....
Siapa dia ??
Apa aku kenal ??
Dari segerombolan perempuan tadi
Seorang cewek menoleh
Dengan kerudung biru berbintik putih kecil-kecil
Kulihat cewek itu
Bukankah itu......
iii ...ittuuu.....
Itu cewek yang ku sayang setengah mati
Mirna ................................
Mirna .............................................
Teriakku
Dengan teriakan terkuatku
Cewek manis, imut, cantik, seksi, montok lagi
Cewek itu benar-benar perfect
Ternyata benar namanya Mirna
Iya, namanya Mirna
Aku ingat sekarang
Semua sudah semakin jelas
Tempat ini adalah tempat dimana Aku kuliah
Dan fajar adalah teman sekelasku
Mirna...............
Mirna.......................
Ku panggil cewek itu
Dan dia pun menoleh padaku
Bergegas ku peluk dia
Ku cium keningnya
Ku kecup bibirnya
Dan ku katakan I LOVE YOU Bebh
Arik, ku titipkan Mirna padamu
Kata salah satu temannya padaku
Ku peluk lagi Mirnaku dan ku pejamkan mataku
Tapi saat ku buka mataku lagi
Mirna ?? ....
Siapa dia ??
Apa aku kenal ??
Dimana rumahnya ??
Aahh.........pusing aku
Hem.....mending bubug, t’rus ngimpi, t’rus ngiler dech
Hahahahahahahahaha............ cape dech......
................................... .................................

KERJA PROYEK SEBAGAI SARANA UNTUK MEMPROMOSIKAN BAHASA DAN KONTEN

KERJA PROYEK SEBAGAI
SARANA UNTUK MEMPROMOSIKAN BAHASA DAN KONTEN

Di Tulis Untuk Memenuhi Tugas
Materi Kuliah Landasan dan Kebijakan Pendidikan

Dosen pembimbing:
Dr. Suhartono dan Dr. Syamsul Sodiq





Oleh:
Agus Paramuriyanto
Nim: 117835008


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PASCASARJANA UNESA SURABAYA
TAHUN 2011/ 2012
SEBUAH PENGANTAR

Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan jumlah pendidik bahasa telah beralih pembelajaran berbasis konten dan proyek kerja untuk mempromosikan pengertian keterlibatan siswa dengan bahasa dan pembelajaran konten. Melalui instruksi berbasis konten, peserta didik mengembangkan kemampuan bahasa sembari menjadi warga dunia yang universal. Dengan mengintegrasikan proyek kerja ke kelas berbasis konten, pendidik menciptakan lingkungan belajar yang dinamis yang mengharuskan keterlibatan siswa yang aktif, merangsang kemampuan berpikir menuju level yang lebih tinggi, dan memberi siswa tanggung jawab untuk pelajaran mereka sendiri. Ketika menerapkan rencana kerja ke dalam kelas berbasis konten. Instruktur menjauhkan diri dari guru dominasinya instruksi dan bergerak ke arah menciptakan komunitas penelitian siswa yang melibatkan pembelajaran kooperatif komunikasi otentik, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Pada artikel ini, kami akan memberikan pemikiran untuk instruksi berbasis konten dan menunjukkan bagaimana proyek kerja dapat diintegrasikan ke dalam kelas berbasis konten. kemudian kami akan menguraikan karakteristik utama dari rencana kerja tersebut, memperkenalkan rencana kerja dalam berbagai konfigurasi, dan ada panduan praktis untuk peruntunan dan mengembangkan rencana. Ini adalah harapan kami bahwa bahasa guru dan pendidik akan dapat mengadaptasi ide-ide yang disajikan disini untuk meningkatkan instruksi kelas mereka.

A. Dasar Pemikiran Content-Based Instruction

Content-Based Instruction (CBI) telah digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran bahasa, meskipun popularitas dan penerapan yang lebih luas telah meningkat secara dramatis sejak awal 1990-an. kepraktisan CBI ini menjadikannya sebuah pendekatan menarik untuk pengajaran bahasa:

“ Dalam pendekatan berbasis konten, aktivitas kelas bahasa ditujukan kusus pada materi pelajaran yang diajarkan, dan diarahkan untuk merangsang siswa untuk berpikir dan belajar melalui penggunaan target bahasa. Pendekatan semacam ini secara alamiah cocok untuk pengajaran terintegrasi dari empat keterampilan bahasa tradisional. Contoh: penggunaan bahan bacaan otentik yang membutuhkan siswa berpikir tidak hanya memahami informasi tetapi untuk menafsirkan dan mengevaluasinya juga. CBI menyediakan sebuah forum dimana siswa dapat merespon secara lisan untuk membaca dan sebagai bahan ajar. Hal ini menyatakan bahwa tulisan akademik tersebut mencakup mendengarkan dan membaca, dan dengan demikian mengharuskan siswa untuk mensintesis fakta dan ide-ide dari berbagai sumber sebagai persiapan untuk menulis. Dalam pendekatan ini, siswa yang diarahkan untuk belajar keterampilan dan belajar berbagai keterampilan bahasa yang mana mempersiapkan mereka untuk berbagai tugas akademis yang akan mereka hadapi. (Brinton, Snow, & Wesche, 1989, hal 2)

Kutipan ini mencerminkan sebuah kumpulan konsistensi deskripsi oleh praktisi CBI yang ada untuk mengapresiasi, banyak cara yang CBI tawarkan tentang Kondisi ideal untuk pembelajaran bahasa. Penelitian di akuisisi bahasa kedua menawarkan dukungan tambahan untuk CBI, namun beberapa bukti yang paling persuasif berasal dari penelitian dalam psikologi pendidikan dan kognitif, meskipun agak bergeser dari konteks pembelajaran bahasa. Empat temuan dari penelitian di pendidikan dan psikologi kognitif yang menekankan manfaat dari CBI yang perlu diperhatikan:

1. Materi yang terorganisasi secara tematik, ciri khas dari kelas berbasis konten, lebih mudah untuk mengingat dan belajar (Singer. 1990).
2. Presentasi informasi yang koheren dan bermakna, karakteristik terorganisir kurikulum berbasis konten, menyebabkan proses lebih dalam dan belajar lebih baik (Anderson, 1990).
3. Terdapat sebuah hubungan antara motivasi siswa dan minat siswa - hasil umum kelas berbasis konten dan kemampuan siswa untuk memproses materi yang menantang, mengingat informasi, dan ketelitian (Alexander, Kulikowich, & Jetton, 1994).
4. Keahlian dalam sebuah topik berkembang ketika peserta didik menginvestasikan kembali pengetahuan mereka dalam urutan tugas yang lebih kompleks (Bereiter & Scardamalia, 1993), dapat dengan mudah dalam kelas berbasis konten dan biasanya mengabsen di kelas bahasa yang lebih tradisional karena fokus yang sempit pada aturan bahasa atau waktu yang terbatas pada pengembangan dangkal dan topik yang berbeda (misalnya, kurikulum didasarkan pada bacaan singkat pada gedung pencakar langit dari New York. diikuti oleh sebuah bagian tentang sejarah permen karet, kemudian diikuti oleh sebuah esai tentang gunung berapi dari orang-orang Northwest Amerika ).

Temuan-temuan empiris penelitian ini, bila dikombinasikan dengan manfaat praktis dari integrasi konten dan pembelajaran bahasa, menyediakan argumen persuasif yang mendukung CBI. Bahasa pendidik yang mengadopsi orientasi berbasis konten akan menemukan bahwa CBI juga memungkinkan untuk menggabungkan pengajaran bahasa yang eksplisit (meliputi, misalnya, tata bahasa, percakapan gambits, fungsi, gagasan, dan keterampilan), sehingga memuaskan bahasa siswa dan kebutuhan konten pembelajaran dalam konteks (lihat Grabe & Stoller, 1997 untuk pemikiran yang lebih maju untuk CBI).

B. Proyek Kerja sebagai Ekstensi Alamiah dari CBI

CBI memungkinkan untuk integrasi alami dari bunyi praktek pembelajaran bahasa seperti sarana alternatif penilaian, belajar magang, pembelajaran kooperatif, instruksi keterampilan terpadu, pekerjaan proyek, perancah, pelatihan strategi, dan penggunaan penyelenggara grafis. Meskipun masing-masing praktek mengajar layak didiskusikan, artikel ini hanya akan fokus pada proyek kerja dan perannya dalam format instruksional berbasis konten.
Beberapa ahli bahasa menyamakan proyek kerja dengan kelompok kerja di dalam kelas, pembelajaran kooperatif atau lebih rumit tugas berbasis kegiatan. Ini adalah tujuan dari artikel ini, bagaimanapun, untuk menggambarkan bagaimana proyek kerja mewakili lebih dari kerja kelompok per se. Pembelajaran berbasis proyek harus dipandang sebagai kendaraan serbaguna untuk bahasa terintegrasi dan pembelajaran konten, membuatnya menjadi pilihan yang layak bagi pendidik bahasa bekerja di berbagai pengaturan instruksional, termasuk general English, English for Academic Purpose (EAP), English for Spesific Purpose (ESP), dan bahasa Inggris untuk tujuan kerja/ kejuruan/ profesional, sebagai tambahan didalam pelatihan guru baik di ruang lingkup formal ataupun nonformal. proyek Kerja dipandang oleh sebagian pendukungnya "bukan sebagai pengganti metode pencucian lainnya", melainkan sebagai "suatu pendekatan untuk belajar yang melengkapi metode mainstream dan yang dapat digunakan oleh hampir semua tingkatan, usia dan kemampuan siswa" (Haines , 1989 hal.1).
Di kelas dimana sebuah komitmen telah dijadikan sebagai pembelajaran konten serta pembelajaran bahasa (yaitu, kelas berbasis konten), proyek kerja ini sangat efektif karena itu merupakan perubahan alami dari apa yang sudah terjadi di kelas. misalnya, dalam kelas EAP terstruktur seputar topik lingkungan, sebuah proyek yang melibatkan pengembangan menampilkan poster menyarankan cara di mana sekolah siswa mungkin terlibat dalam praktek lebih ramah lingkungan suara akan menjadi hasil alami dari isi dan bahasa kegiatan belajar yang terjadi di kelas. Dalam kursus bahasa Inggris kejuruan berfokus pada pariwisata, pengembangan brosur promosi menyoroti tempat menarik di kota. siswa akan mendapatkan pelajaran dengan cara alami dari kurikulum. Dalam kursus bahasa Inggris umum yang difokuskan pada kota di negara-negara berbahasa Inggris, siswa dapat membuat publik papan buletin menampilkan dengan informasi bergambar dan ditulis pada kota-kota yang ditargetkan. Dalam ESP; kursus hukum internasional, laporan tertulis membandingkan dan mengkontraskan sistem hukum Amerika dan rumah-sistem hukum negara mahasiswa 'merupakan sebuah proyek "yang berarti memungkinkan untuk sintesis, analisis, dan isi kursus.
Proyek kerja sama dengan keefektifan dalam pembelajaran guru kursus. Jadi, dalam kursus tentang pengembangan materi, handbook siswa yang dihasilkan terdiri dari latihan generik untuk praktek keterampilan bahasa pada tingkat kemahiran yang berbeda tentang keahlian berbahasa inggris yang menunjukkan sebuah manfaat dan praktek kerja yang dapat digunakan di kemudian hari sebagai alat referensi guru.
Keuntungannya adalah bahwa pengalaman guru dalam masa pelatihan dengan bisa menjadi pembelajaran berbasis proyek, pada masanya, dapat di transfer ke perencanaan pelajaran mereka sendiri di masa depan (J. Mohanraj, komunikasi pribadi Juni 5, 1997.) Contoh - contoh ini hanya mewakili beberapa kemungkinan yang tersedia bagi guru dan siswa ketika memasukkan proyek kerja ke dalam kurikulum berbasis konten.

C. Karakteristik Dasar Proyek Kerja
Proyek kerja telah dijelaskan oleh sejumlah pendidik bahasa, termasuk Carter dan Thomas (1986), Ferragatti dan Carminati (1984), Fried-Booth (1982,1986), Haines (1989), Ugutke (1984,1985), Legutke dan Thiel (1983), Papandreou (1994), Sheppard dan Stoller (1995), dan Ward (1988). Meskipun masing-masing pendidik telah mendekati suatu proyek pekerjaan dari suatu karya, namun disini cara kerja proyek kerja dijelaskan sebagai berikut:

1. Proyek kerja yang berfokus pembelajaran konten bukan pada target bahasa tertentu. Subjek materi yang nyata dan topik yang menarik bagi siswa dapat menjadi pusat untuk proyek-proyek pekerjaan.
2. Proyek kerja berpusat pada siswa, meskipun guru memainkan peran utama dalam menawarkan dukungan dan bimbingan selama proses berlangsung.
3. Proyek kerja menekankan Siswa mandiri atau bisa bekerja sendiri, dalam kelompok kecil, atau sebagai kelompok untuk menyelesaikan sebuah proyek, sumber daya, berbagi ide, dan menjadikannya keahlian di sepanjang jalan.
4. Proyek kerja mengarah ke integrasi otentik keterampilan dan pengolahan informasi dari berbagai sumber, mirroring tugas pada kehidupan nyata.
5. Proyek kerja memuncak dalam produk akhir (misalnya, presentasi lisan, sesi poster, tampilan papan buletin, laporan, atau pertunjukan panggung) yang dapat dibagi dengan orang lain, memberi proyek sebuah tujuan yang nyata. Nilai proyek, namun, terletak tidak hanya pada produk akhir tetapi dalam proses kerja menuju titik akhir. Jadi, kerja proyek memiliki keduanya proses dan orientasi produk, dan memberikan kesempatan pada siswa untuk fokus pada kelancaran dan akurasi pada berbagai proyek tahap pekerjaan.
6. Proyek kerja berpotensi memotivasi, merangsang, memberdayakan, dan menantang. Biasanya hasil dalam membangun rasa percaya diri siswa, harga diri, dan otonomi serta meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa, belajar konten, dan kemampuan kognitif.

D. Proyek Kerja dan Berbagai Konfigurasinya
Meskipun serupa dalam banyak cara, proyek kerja dapat mengambil konfigurasi yang beragam. Format yang paling cocok untuk konteks yang diberikan tergantung pada berbagai faktor, termasuk faktor tujuan kurikuler, harapan, tingkat kemampuan siswa, minat siswa, kendala waktu, dan ketersediaan bahan. Ditinjau dari jenisp royek yang akan didemontrasikan itu mencakup ruang lingkupnya, fleksibilitas, dan adaptasi dari proyek kerja.
Proyek kerja mengukur sejauh mana kekompakan guru dan siswa memutuskan sifat dan urutan kegiatan yang terkait dengan proyek, seperti yang ditunjukkan oleh tiga jenis proyek yang diusulkan oleh Henry (1994): struktur proyek itu ditentukan, dikhususkan dan diorganisasikan oleh guru dalam hal topik, bahan, metodologi, dan presentasi. Sebagian besar struktur proyek didefinisikan oleh siswa sendiri, dan semiterstruktur proyek didefinisikan dan diatur sebagian oleh guru dan sebagian oleh siswa.
Proyek kerja dapat dihubungkan dengan kenyataan dilapangan (misalnya ketika siswa-siswa ESP Italia mendesain selebaran untuk agen perjalanan asing di luar Eropa menggambarkan keuntungan standardisasi Masyarakat Eropa tentang sistem listrik sebagai langkah menuju persatuan Eropa, atau ketika siswa bahasa Inggris umum di sebuah sekolah internasional yang menciptakan layar papan buletin publik - dengan foto dan teks didasarkan pada wawancara ekstensif dengan EFL fakultas memperkenalkan mahasiswa baru untuk guru EFL mereka), Proyek juga dapat dihubungkan dengan simulasi masalah dunia nyata (misalnya, ketika EAP siswa dipentaskan untuk perdebatan tentang pro dan kontra dari sensor sebagai bagian dari unit berbasis konten pada sensor). Proyek juga dapat mempengaruhi ketertarikan siswa, dengan atau tanpa signifikansi dunia nyata (misalnya saat bahasa Inggris umum merencanakan perjalanan lapangan yang rumit ke bandara internasional di mana mereka melakukan wawancara ekstensif dan rekaman video wisatawan internasional, lihat Ferragatti & Carminati, 1984; Legulke, 1984; 1985; Legutke & Thiel, 1983).
Proyek juga dapat berbeda dalam teknik pengumpulan data dan sumber informasi seperti yang ditunjukkan oleh jenis proyek. Proyek penelitian memerlukan pengumpulan informasi melalui penelitian perpustakaan. Demikian pula, proyek teks melibatkan "teks" (misalnya, sastra, laporan, media berita, video dan materi audio, atau informasi berbasis komputer) daripada orang. Korespondensi proyek membutuhkan komunikasi dengan individu (atau bisnis, lembaga pemerintah, sekolah, atau kamar dagang) untuk meminta informasi dengan cara faks, panggilan telepon, atau surat elektronik. Proyek survei berarti menciptakan instrumen survei dan kemudian mengumpulkan dan menganalisis data dari "informan." Pertemuan proyek mengakibatkan kontak tatap muka dengan pembicara tamu atau individu di luar kelas. (Lihat Haines, 1989 dan Legutke & Thomas, 1991 untuk penjelasan lebih rinci dari jenis proyek.)
Proyek juga mungkin berbeda dalam cara bahwa informasi "dilaporkan" sebagai bagian dari kegiatan puncak (lihat Haines, 1989). Proyek produksi melibatkan penciptaan buletin-papan display, video, program radio, sesi poster, laporan tertulis, esai foto, surat, buku panduan, brosur, menu perjamuan, jadwal perjalanan, dan sebagainya. Kinerja proyek dapat mengambil bentuk panggung debat, presentasi lisan, pertunjukan teater, pameran makanan atau fashion show. Proyek organisasi memerlukan perencanaan dan pembentukan sebuah meja percakapan klub, atau program percakapan-mitra.
Apapun konfigurasinya, proyek dapat dilakukan secara intensif selama periode waktu yang singkat atau diperpanjang selama beberapa minggu, atau satu semester penuh, mereka dapat diselesaikan oleh siswa secara individu, dalam kelompok kecil, atau sebagai kelas, dan mereka dapat berlangsung sepenuhnya dalam batas-batas kelas atau dapat memperluas di luar dinding kelas dalam masyarakat atau dengan orang lain melalui berbagai bentuk korespondensi.

E. MEMASUKKAN PROYEK KERJA KE DALAM KELAS
Proyek kerja, apakah hal ini terintegrasi ke dalam sebuah unit berbasis konten tematik atau diperkenalkan sebagai urutan khusus dari kegiatan di kelas yang lebih tradisional, memerlukan beberapa keberhasilan tahapan pembangunan. Fried-Booth (1986) mengusulkan proses multi-langkah yang mudah diikuti yang dapat membimbing guru dalam mengembangkan dan peruntutan pekerjaan proyek untuk ruang kelas mereka. Demikian pula, Haines (1939) menyajikan deskripsi langsung dan bermanfaat tentang proyek kerja dan langkah-langkah yang diperlukan untuk keberhasilan pelaksanaan. Baik Fried-Booth dan Haines volume termasuk deskripsi rinci dari proyek-proyek yang dapat disesuaikan untuk banyak kelas bahasa. Mereka juga menawarkan saran untuk memperkenalkan siswa dengan ide-berpusat, aktivitas siswa melalui penghubung-strategi (Fried-Booth, 1986) dan memimpin-dalam kegiatan (Haines, 1989), terutama berguna jika siswa tidak terbiasa dengan pekerjaan proyek dan penekanannya pada inisiatif siswa dan otonomi.
Sheppard dan Stoller (1995) mengusulkan suatu urutan 8-langkah kegiatan untuk mendalangi pekerjaan proyek dalam kelas ESP. Model Thailand telah melakukan fine-tuned, setelah pengujian di sebuah ruang kelas Ragam bahasa dan kursus-kursus pelatihan guru. Urutan 10-langkah baru (lihat Gambar 1) yang dijelaskan di sini secara rinci. Model direvisi memberikan mudah-untuk-mengelola struktur 10 pekerjaan proyek dan guru pemandu dan siswa dalam mengembangkan proyek-proyek yang memfasilitasi pembelajaran bermakna konten dan memberikan kesempatan bagi pengajaran bahasa yang eksplisit pada saat-saat kritis dalam proyek tersebut. Ini bahasa "intervensi" pelajaran akan membantu siswa menyelesaikan proyek mereka berhasil dan akan dihargai oleh siswa karena penerapannya langsung mereka dan relevansi. Langkah-langkah intervensi bahasa (4, 6, dan 8) adalah opsional dalam pendidikan guru kursus, tergantung pada kemahiran bahasa dan kebutuhan guru dalam pelatihan.



F. Mengembangkan Proyek di Kelas Bahasa

Untuk memahami fungsi dari setiap langkah yang diusulkan, bayangkan kelas EAP berbasis konten yang berfokus pada Amerika elections. (Sebuah diskusi paralel bisa, dikembangkan (atau kelas-umum Inggris, GAP, ESP, Inggris kejuruan, dan se4bagaimana yang berfokus pada lembaga Amerika, demografi, alternatif energi, keamanan pertanian, desain fashion, kesehatan, mobil yang ideal, polusi serangga asli Amerika, hutan hujan, tata surya, dll). Unit tematik terstruktur sehingga dalam struktur dan siswa dapat mengeksplorasi berbagai topik, cabang dari pemerintah AS, proses pemilu, partai politik dengan
Ideologi mereka dan platform yang sesuai, dan pilihan perilaku. Informasi tentang topik ini diperkenalkan melalui buku bacaan, surat kabar, dan majalah berita; grafik dan diagram, video, dictocomps; guru yang dihasilkan memberi dan mencatat kegiatan; diskusi kelas formal dan informal dan kerja kelompok; pembicara tamu, dan materi promosi partai politik US. Sambil menjelajahi topik ini dan mengembangkan beberapa tingkat keahlian tentang pemilu Amerika, siswa meningkatkan listening dan mencatat keterampilan, kemampuan membaca, akurasi dan kefasihan dalam berbicara, menulis kemampuan, kemampuan belajar, dan keterampilan berpikir kritis. Untuk bingkai diskusi ini, perlu dicatat bahwa unit tematik tertanam ketrampilan secara terpadu, kursus berbasis konten dengan tujuan sebagai berikut:

• Untuk mendorong siswa untuk menggunakan bahasa dalam mempelajari sesuatu yang baru tentang topik yang menarik.
• Untuk mempersiapkan siswa dalam belajar materi pelajaran melalui bahasa Inggris
• Untuk mengekspos siswa dalam konten dari berbagai sumber informasi untuk membantu mereka meningkatkan bahasa akademis mereka dan kemampuan belajar.
• Untuk melengkapi para siswa dengan sumber daya konteks dalam memahami bahasa dan isi.
• Untuk mensimulasikan kerasnya kursus akademis dalam lingkungan terlindung.
• Untuk mempromosikan kemandirian siswa dan keterlibatan dengan belajar.

Setelah diperkenalkan ke unit tema dan kosakata yang paling mendasar dan konsep, instruktur memperkenalkan sebuah proyek semiterstruktur yang akan ditenun menjadi pelajaran kelas dan rentang panjang unit tematik. Guru telah membuat beberapa keputusan tentang proyek: Siswa akan panggung perdebatan politik simulasi yang membahas isu-isu politik dan sosial kontemporer. Untuk merangsang bunga dan rasa kepemilikan dalam proses, instruktur akan bekerja dengan siswa untuk memutuskan masalah yang akan diperdebatkan, jumlah dan jenis partai politik yang diwakili dalam perdebatan, format debat dan sarana untuk menilai perdebatan. Untuk berpindah dari konsepsi awal proyek untuk perdebatan yang sebenarnya, instruktur dan siswa mengikuti sepuluh langkah.





Fredricka L. Stoller (Langkah-Langkah Kegiatan)












































Pigure 1 : Memasukkan Proyek Ke Kelas Bahasa



Langkah I: Guru dan Siswa Menentukan Tema Untuk Proyek
Untuk mengatur ruangan, guru memberi siswa kesempatan untuk membentuk kelompok kerja dan bertukar pandangan, atau pendapat dan menentukan berkomitmen. Kemudian duru menyepakati pandangan-pandangan siswa, kemudian siswa dapat menyempurnakan tema proyek. Sementara membentuk proyek bersama, siswa mencari menentukan referensi seperti: bahan bacaan, video, diskusi, dan kegiatan kelas.

Langkah 2: Guru dan Siswa Menentukan Hasil Akhir (hipotesis)
Sedangkan tahap pertama proyek kerja menetapkan langkah-langkah awal proyek kerja, langkah kedua memerlukan mendefinisikan titik akhir, atau hasil akhir. Siswa dan instruktur mempertimbangkan sifat proyek, tujuan, dan sarana paling tepat untuk mewujudkan proyek. Mereka dapat memilih dari berbagai pilihan, termasuk, poster atau layar papan berita, debat, presentasi lisan, paket informasi, buku pegangan, buku acuan, brosur, koran, atau video.
Dalam kasus proyek pemilu Amerika, guru telah memutuskan bahwa hasil akhir akan sebuah debat publik antara dua partai politik (fiktif). Dalam tahap kedua dari proyek tersebut, siswa mengambil bagian dalam mendefinisikan sifat menemukan format perdebatan dan menunjuk audiens yang dituju. Dengan bantuan instruktur, diputuskan bahwa kelas akan membagi dirinya menjadi lima tim topikal, masing-masing bertanggung jawab untuk memperdebatkan salah satu masalah yang sebelumnya diidentifikasi; tim topikal akan menghasilkan proposisi diperdebatkan tentang masalah mereka yang ditunjuk dan kemudian membagi menjadi dua sub kelompok sehingga bahwa setiap sisi masalah dapat diwakili dalam perdebatan. Siswa juga akan dikelompokkan menjadi dua partai politik, yang mereka akan nama sendiri, dengan satu sisi dari setiap masalah terwakili dalam partai politik; isu-isu dan perspektif yang sesuai akan membentuk platform partai. Perdebatan 40-menit itu disusun sebagai berikut.

Pidato pembukaan
Perwakilan dari pihak pertama 1 menit
Perwakilan dari pihak kedua 1 menit
Isu 1
Pihak perwakilan yang mendukung proposisi 2 menit
Pihak perwakilan yang menentang proposisi 2 menit
Sanggahan Isu 1
perwakilan lain yang mendukung proposisi 1 menit
Perwakilan lain yang menentang proposisi 1 menit
Isu 2-5
(Pola Sama seperti isu 1) 24 menit
Pertanyaan dan jawaban -
dari pendengar untuk perwakilan pihak lain 6 menit
Penutup
Pembicara dari pihak kedua 1 menit
Pembicara dari pihak pertama 1 menit

Langkah 3: Guru Dan Siswa Menetukan Struktur Proyek

Setelah siswa telah menentukan titik awal dan akhir proyek, mereka perlu struktur "tubuh" dari proyek. Pertanyaan yang siswa harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut: Informasi apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek) Bagaimana Informasi yang diperoleh (misalnya di perpustakaan, wawancara, catatan, faks E-mail, website, kunjungan lapangan, tampilan. video)? Bagaimana informasi, setelah dikumpulkan, dikompilasi dan dianalisis? Apa peran masing-masing yang dimainkan siswa dalam evolusi proyek (yaitu, siapa melakukan apa?) Apa baris waktu akan siswa ikuti untuk mendapatkan dari titik berbuat dosa sampai titik akhir? Jawaban banyak dari pertanyaan bergantung pada lokasi program bahasa dan jenis informasi yang mudah dijangkau (mungkin dikumpulkan sebelumnya oleh instruktur) dan orang-orang yang harus diminta oleh mail "kecil", surat elektronik, faks, atau panggilan telepon.

Langkah 4: Guru Membimbing Siswa dalam Menentukan Cara Megumpulkan
Informasi dan Data yang di Bahas
Dalam langkah ini cara pengumpulan data ditentukan oleh guru, dan siswa berkonsultasi kepada guru tentang bagaimana cara pengumpulan informasi dengan menggunakan keterampilan bahasa (menuju langkah 5). Guru kemudian merencanakan kegiatan atau langkah-langkah untuk mempersiapkan siswa untuk mengumpulkan informasi. Misalnya, jika siswa akan mengumpulkan informasi dengan cara wawancara, instruktur mungkin rencana latihan pada susunan pertanyaan, memperkenalkan gambits percakapan, dan menyisihkan waktu untuk peran-bermain untuk memberikan umpan balik pada pengucapan dan untuk memungkinkan siswa untuk berlatih mendengarkan dan mengambil catatan atau rekaman audio. Di sisi lain, jika siswa akan menggunakan perpustakaan untuk mengumpulkan bahan, instruktur mungkin memeriksa langkah untuk mencari sumber daya dan menggelapkan praktek dan mencatat dengan teks sampel. Guru juga dapat membantu siswa menyusun grid untuk pengumpulan data yang terorganisir. Jika siswa akan menulis surat untuk meminta informasi untuk proyek mereka, guru dapat memperkenalkan atau meninjau konvensi format surat dan pertimbangan penonton, termasuk tingkat formalitas dan pilihan kata. Jika siswa akan menggunakan World Wide Web untuk mengumpulkan informasi, instruktur dapat meninjau efisiensi penggunaan teknologi ini.

Langkah 5: Siswa Mengumpulkan Informasi Atau Data
Setelah memahami penggunaan ilmu berbahasa, keterampilan, dan strategi yang diperlukan untuk mengumpulkan informasi, siswa sekarang siap untuk mengumpulkan informasi dan mengaturnya sehingga orang lain dalam tim mereka dapat memahaminya. Dalam proyek yang disorot di sini, siswa membaca bacaan saja dengan mencari bahan yang relevan, menggunakan perpustakaan dukungan baru dan informasi diminta yang mungkin dapat digunakan dalam perdebatan. Selama tahap pengumpulan data, guru, mengetahui masalah dan proposisi yang diteliti, juga membawa informasi yang berpotensi relevan untuk dipertimbangkan siswa, seperti bahan bacaan, video, dictocomps, dan pengarahan-pengarahan dari guru.

Langkah 6: Guru Membimbing Siswa Untuk Melakukan Kegiatan Kompilasi Dan Analisis Data
Setelah berhasil mengumpulkan informasi, siswa dihadapkan dengan tantangan pengorganisasian dan mensintesis informasi yang mungkin telah dikumpulkan dari sumber yang berbeda dan oleh individu yang berbeda. Guru dapat mempersiapkan siswa untuk tuntutan dari tahap kompilasi dan analisis dengan mengadakan sesi di mana siswa mengatur bahan, dan kemudian mengevaluasi, menganalisis, dan menafsirkan dengan sudut pandang ke arah penentukan yang paling tepat untuk (pendukung dan penentang dari proposisi yang diberikan siswa. Memperkenalkan. untuk representasi grafis (misalnya, grid dan grafik) yang dapat menyoroti hubungan antara ide-ide ini sangat berguna pada saat ini.

Langkah 7: Siswa Menganalisis Informasi
Dengan bantuan dari berbagai teknik organisasi (termasuk penggunaan grafis), siswa menyusun dan menganalisa informasi untuk mengidentifikasi data yang relevan dengan proyek. Tim mahasiswa menimbang nilai dari data yang dikumpulkan, membuang beberapa karena ketidaksesuaian mereka untuk proyek dan sisanya menjaga, Siswa menentukan informasi merupakan primer "bukti" bagi para pendukung dan penentang proposisi mereka. Hal ini pada titik ini bahwa tim topikal membagi diri menjadi dua kelompok dan mulai bekerja secara terpisah untuk membangun kasus terkuat untuk perdebatan.


Langkah 8: Guru Membimbing Siswa untuk Menyiapkan Bahasa Presentasi dari
Produk Akhir
Pada titik ini dalam pengembangan proyek, instruktur dapat membawa perbaikan dalam kegiatan bahasa untuk membantu siswa berhasil dengan penyajian produk akhir mereka. Hal ini mungkin memerlukan mempraktekkan keterampilan presentasi lisan dan menerima umpan balik pada proyeksi suara, pengucapan, organisasi ide, dan kontak mata. Ini mungkin melibatkan pengeditan dan merevisi laporan tertulis, surat, atau buletin-papan teks tampilan. Dalam kasus proyek debat pemilu Amerika, instruktur terfokus pada percakapan gambits akan digunakan selama debat untuk menunjukkan ketidaksetujuan sopan dan menawarkan perspektif yang berbeda (lihat Mach, Stoller, & Tardy, 1997). Siswa berlatih presentasi lisan mereka dan mencoba hipotesis pertanyaan mereka akan diminta oleh lawan. Mereka waktunya satu sama lain dan menyimpan setiap umpan balik lain pada konten, pilihan kata, persuasi, dan intonasi. Siswa juga bekerja dengan "seniman" dalam kelompok mereka untuk menyelesaikan tampilan visual, untuk memastikan mereka tata bahasa yang benar dan mudah ditafsirkan oleh penonton. Siswa juga menciptakan selebaran mengumumkan perdebatan (lihat Lampiran), yang menjabat sebagai undangan dan pengingat bagi anggota audiens.

Langkah 9: Siswa Menyajikan Produk Akhir
Siswa sekarang siap untuk menyajikan hasil akhir proyek mereka Dalam proyek yang dipilih , mahasiswa menggelar debat mereka di depan audiens. Penonton memilih pada kepersuasifan setiap partai politik, dan pemenang diumumkan. Dalam kasus yang dijelaskan di sini, perdebatan itu direkam sehingga siswa nantinya dapat meninjau kinerja perdebatan mereka dan menerima umpan balik dari instruktur dan rekan-rekan mereka.

Langkah 10: Siswa Mengevaluasi Proyek
Meskipun siswa dan guru sama-sama shering melihat presentasi dari produk akhir sebagai tahap terakhir dalam proses pekerjaan proyek, adalah sangat berguna untuk meminta siswa untuk bercermin pada pengalaman sebagai langkah terakhir dan final job. Siswa dapat mencerminkan kemampuan mereka pada pemahaman bahasa yang mereka kuasai untuk menyelesaikan proyek, konten yang mereka pelajari tentang tema yang ditargetkan (dalam kasus yang disorot di sini), langkah-langkah mereka diikuti untuk menyelesaikan proyek, dan efektivitas dari produk akhir mereka. Siswa dapat bertanya bagaimana mereka bisa melanjutkan dilain waktu berikutnya atau apa saran yang mereka dapatkan untuk usaha pekerjaan proyek masa depan. Melalui kegiatan ini reflektif, siswa menyadari betapa banyak yang telah mereka pelajari dan manfaat dari wawasan guru siswa untuk proyek-proyek kelas masa depan.

KESIMPULAN
Pembelajaran berbasis konten atau isi dan proyek kerja menyediakan dua sarana untuk membuat lingkungan kelas bahasa lebih bersemangat untuk belajar berkolaborasi. Proyek kerja, bagaimanapun, tidak ada batasan pada pembelajaran berbasis konten kelas bahasa. Bahasa guru di kelas yang lebih tradisional, bisa diversifikasi arahkan dengan proyek sesekali. Demikian pula, guru pendidik dapat mengintegrasikan proyek ke dalam program mereka untuk memperkuat isu-isu pedagogis penting, dan memberikan peserta pelatihan dengan pengalaman, sebuah proses yang dapat diintegrasikan ke dalam kelas masa depan mereka sendiri. Apakah pusat proyek, demografi, pendidikan perdamaian, desain silabus, atau metodologi, siswa berbagai tingkat dan kebutuhan bisa mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang memberdayakan yang hasil dari partisipasi dan kolaborasi dalam proyek. Meskipun pekerjaan proyek dapat lebih mudah untuk diimplementasikan dalam pengaturan bahasa kedua karena sumber daya konten yang lebih mudah diakses, pendekatan proyek kerja dapat sukses dan bermanfaat bagi guru dan siswa.